Pahlawan Bangsa dalam Citra Lukisan

Posted on November 26, 2009. Filed under: Uncategorized |

     

Oleh : Dr. Agus Priyatno, M.Sn

Pahlawan bangsa  dikenal penulis  sejak di Sekolah Dasar. Pahlawan bangsa dikenal melalui teks-teks buku sejarah dan cerita dari guru kelas. Sosok wajah pahlawan bangsa diketahui dari gambar-gambar di buku sejarah, atau dari lukisan-lukisan reproduksi yang dipajang di dinding ruang kelas.

Ada  Pangeran Diponegoro, Raden Ajeng Kartini, Cut Nya Dien, Patimura, Ki Hajar Dewantoro, Sisingamangaraja, Pangeran Antasari dan sejumlah figur pahlawan bangsa lainnya. Lukisan-lukisan itu karya pelukis Basoeki Abdullah almarhum.

Selain lukisan karya pelukis, sebenarnya terdapat lukisan-lukisan kepahlawanan karya pelukis lain. Di antaranya, lukisan tokoh besar Jenderal Soedirman karya pelukis Joes Supadyo.

Lukisan  pahlawan Wolter Monginsidi karya pelukis Alex Wetik. Kemudian lukisan  berjudul “Tjatjat Karena Perdjoeangan Kemerdekaan”  karya  pelukis S. Tjondrohandojo. Lukisan kepahlawanan berjudul “Praktek Tentara Pendudukan Asing” dan lukisan berjudul “Persiapan Gerilya” diciptakan oleh pelukis Dullah. Lukisan-lukisan kepahlawanan, dapat dilihat pada buku lukisan koleksi Presiden RI Soekarno dan buku lukisan koleksi Adam Malik.

Wajah para pahlawan bangsa itu, hingga kini masih kuat  tertanam dalam ingatan. Kisah  heroik para pahlawan  dalam membela bangsanya juga menjadi lebih mudah diingat, karena sosoknya dikenal meskipun hanya lewat lukisan. Kisah kepahlawanan para patriot bangsa dalam citra lukisan dapat membantu mempermudah pemahaman  dibandingkan tanpa citra lukisan.

Lukisan tentang kisah heroik para pahlawan sangatlah penting untuk menanamkan rasa kebangsaan, namun lukisan seperti ini jarang ditemui. Pelukis muda pencipta lukisan kepahlawanan di antaranya Dede Eri Supria. Dia  mengonstruksi secara visual dalam bentuk lukisan kisah heroik rakyat Aceh melawan penjajah Belanda. Lukisan kepahlawanan sejauh ini masih tidak memadai jumlahnya, dibandingkan dengan banyaknya kisah kepahlawanan yang ada di negeri ini.

Indonesia Kaya Kisah Kepahlawanan

Bangsa Indonesia kaya kisah kepahlawanan atau peristiwa heroik, namun miskin dengan lukisan kepahlawanan. Jika ada lukisan kepahlawanan, biasanya sebatas pelukisan figur dan wajahnya saja. Cut Nya Dien misalnya, keberaniannya di medan perang tidak pernah dikonstruksi secara visual dalam bentuk lukisan.

Demikian pula dengan kisah perang panjang di Pulau Jawa, Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya melawan kolonial Belanda, dilukiskan hanya sebatas saat pahlawan ditangkap oleh Penjajah. Lukisan lain tentang pahlawan itu, saat Pangeran Diponegoro naik kuda memimpin peperangan berpakaian sorban putih. Selain itu bisa dikatakan tidak ada lukisan yang mengungkapkan adegan-adegan kepahlawanan tokoh ini.

Lukisan kepahlawanan lainnya seperti Sisingamangaraja, Patimura, Pangeran Antasari, Ki Hajar Dewantoro dan lain-lainnya tidak jauh berbeda. Mereka dilukiskan hanya sebatas figur dan wajahnya. Adegan-adegan heroik mereka tidak pernah dilukiskan dalam lukisan tunggal,  maupun lukisan sinopsis berupa rangkaian peristiwa perjuangan dalam beberapa lukisan.

Banyak kisah patriotik dan kepahlawanan di negeri ini masih dalam bentuk teks-teks sejarah, tidak pernah diungkapkan dalam bentuk lukisan. Diantaranya perang gerilya Jenderal Soedirman.

Kisah dirinya begitu dramatis karena beliau memimpin perang di hutan hanya dengan satu paru-paru. Kondisi badanya begitu lemah sehingga harus ditandu, tapi semangat juangnya terus menyala-nyala, beliau tidak pernah menyerah terhadap musuh maupun terhadap penyakit yang menggerogotinya. Jiwa besarnya membuat seluruh anak buahnya sangat menghormati dan mencintainya. Adegan-adegan kepahlawanan seperti itu tidak terekam dalam bentuk lukisan.

Kisah pemberontakan tentara Peta melawan Jepang pimpinan Slamet Riyadi. Pemberontakan ini berujung dengan hukuman mati sejumlah pemimpinnya. Kisah penggempuran kota Surabaya oleh tentara Belanda karena salah seorang jenderalnya terbunuh. Kisah pertempuran di Ambarawa dan sejumlah tempat lainnya di Indonesia, serta kisah-kisah heroik dan patriotik para pahlawan tak dikenal. Jumlah kisah kepahlawanan tak terhitung lagi, namun jarang sekali bisa ditemui kisah-kisah itu diungkapkan dalam bentuk lukisan.

Pentingnya Lukisan Kepahlawanan Diciptakan

Sedikitnya jumlah lukisan kepahlawanan dibanding dengan banyaknya kisah kepahlawanan, tentu sangat memprihatinkan. Lukisan kepahlawanan berguna untuk memperkenalkan tokoh-tokoh pahlawan bangsa pada masyarakat banyak. Lukisan mampu menjelaskan secara cepat suatu peristiwa jika dibandingkan dengan tulisan atau kata-kata. Lukisan mampu menanamkan rasa kebangsaan secara efektif dan efisien.

Lukisan kepahlawanan dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Misalnya, lukisan sebagai unsur penjelas pada museum kepahlawanan. Sebagai contoh, kisah-kisah perjuangan Jenderal Sudirman diungkapkan dalam sejumlah lukisan. Lukisan-lukisan itu lalu dipajang di Museum Pahlawan, melalui cara ini museum menjadi lebih menarik. Museum lalu dijadikan tempat studi tour siswa sekolah, adanya lukisan-lukisan menarik akan menyenangkan siswa ketika memahami kisah parjuangan pahlawannya.

Contoh lain, Gedung Karesidenan Kedu di Magelang tempat Pangeran Diponegoro ditangkap, mestinya dapat dijadikan museum kepahlawanan. Lukisan-lukisan kepahlawanan tentang tokoh ini diciptakan, dipajang di dalam gedung itu. Museum kepahlawanan lebih menarik jika didalamnya terdapat lukisan-lukisan hebat tentang perjuangan sang pahlawan.

Sangat disayangkan, alih-alih diciptakan lukisan tentang kisah-kisah kepahlawanan Pangeran Diponegoro, gedung bernilai sejarah yang mestinya dapat difungsikan untuk museum, pemanfaatannya hanya sebatas sebagai kantor administrasi pemerintahan.

Di Sumatera Utara kisah perjuangan Sisingamangaraja mestinya dapat juga dilukiskan. Adegan-adegan patriotiknya diungkapkan melalui lukisan, lalu dipajang di museum. Melalui cara ini masyarakat Sumatera Utara dapat lebih mengenal pahlawan nasional dari daerahnya, karena lukisan mampu memberikan penjelasan secara cepat tentang suatu peristiwa.  Pengunjung museum dapat memahami kisah kepahlawanan Sisingamangaraja secara mudah dalam waktu singkat.

Museum kepahlawanan dengan banyak lukisan sebagai tempat kunjungan wisata maupun tempat studi tour siswa, dapat berperan dalam proses pendidikan, dalam hal ini proses belajar sejarah kepahlawanan. Sambil berwisata di museum, kisah kepahlawananpun tertanam dalam diri para pelajar.

Sebuah model pembelajaran seperti ini tentu sangat menyenangkan. Sayang sekali, museum pahlawan ini belum dibangun, apalagi diciptakan lukisan-lukisan untuk dipajang di dalamnya.

Lukisan kepahlawanan juga dapat direproduksi sebagai ilustrasi buku sejarah. Lukisan-lukisan kepahlawanan dapat ditempatkan di antara teks-teks buku, sehingga buku sejarah menjadi menarik dan tidak membosankan. Kelelahan membaca kalimat dapat disegarkan dengan lukisan-lukisan menarik. Melalui  cara ini, siswa akan senang membaca buku-buku sejarah kepahlawanan. Penanaman rasa kebangsaan akan terjadi melalui cara-cara rileks, tidak menjenuhkan.

Selain itu lukisan kepahlawanan juga dapat direproduksi dalam ukuran sebenarnya. Lukisan kepahlawanan reproduksi ini dapat dipajang di gedung-gedung publik, seperti kantor-kantor swasta maupun negeri, atau juga di sekolah-sekolah. Jika lukisan kepahlawanan ini dibuat sangat menarik tentu banyak orang suka melihatnya.

Tidak ada salahnya memperkenalkan para pahlawan melalui lukisan seperti itu. Sebagai perbandingan, meskipun perbandingan ini tidak tepat seratus persen, di luar negeri monumen kepahlawanan dibangun di tempat-tempat terbuka, di pusat-pusat kota dan dapat dinikmati masyarakat umum.

Peran Pemerintah

Pemerintah daerah maupun pusat dapat berperanan dalam mendorong para pelukis agar mau menciptakan lukisan kepahlawanan. Beberapa cara dapat dilakukan, antara lain melalui pesanan langsung kepada para pelukis. Lukisan kepahlawanan ini harus diciptakan berdasarkan teks-teks sejarah, tidak dikarang sendiri oleh pelukisnya. Melalui cara ini interpretasi kepahlawanan dalam bentuk visual lukisan tidak jauh berbeda dengan interpretasi melalui teks-teks tulisan.

Lukisan kepahlawanan mengungkapkan kisah nyata dari masa lalu, konstruksi visual terhadap setiap adegan harus mampu menunjukkan fakta-fakta sesuai zamannya. Studi tentang karakter sang tokoh dan berbagai hal terkait dengan itu harus sesuai. Termasuk tentang arsitektur bangunan, lingkungan alam, kondisi geografis, iklim, gaya busana dan bahan pakaian. Selain itu juga bentuk perkakas, senjata, serta lingkungan flora dan fauna harus menunjukkan kondisi masa itu.

Menciptakan lukisan kepahlawanan seperti itu memerlukan ketelitian dan kecermatan. Pelukis harus mempelajari terlebih dahulu kisah kepahlawanan sang tokoh dari teks-teks buku sejarah, juga bukti-bukti fisik di museum. Selain pendekatan kesejarahan, pendekatan arkeologi sangat diperlukan untuk menciptakan lukisan kepahlawanan yang tepat.

Pemerintah juga dapat mendorong lingkungan akademis, terutama di jurusan senirupa,  untuk menciptakan lukisan kepahlawanan. Dosen senirupa diminta menciptakan lukisan kepahlawanan melalui studi literatur berdasarkan pendekatan ilmiah.

Setiap perguruan tinggi diminta melukiskan kisah-kisah kepahlawanan dari daerahnya masing-masing, jika setiap perguruan tinggi di Indonesia mampu menciptakan lukisan seperti itu, akan banyak lukisan kepahlawanan diciptakan, lukisan-lukisan ini akan berguna bagi masyarakat luas untuk menanamkan Nasionalisme.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 53,773 hits
  • Top Rated

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: